Loading...

ANALYSIS BRIEF

23 Jun 2026 by Primbon Saham


*1. Ritel Teratas, Apa Saja yang Diborong Sepekan?*
Aktivitas investor ritel pada pekan perdagangan 6–10 April 2026 menunjukkan dominasi transaksi melalui broker Stockbit Sekuritas Digital (XL). Data yang dihimpun Kabarbursa.com mencatat nilai transaksi broker XL mencapai Rp19 triliun dengan net buy sebesar Rp366,1 miliar. Data tersebut menunjukkan total nilai beli (buy value) investor ritel melalui broker XL sebesar Rp9,7 triliun, sementara nilai jual (sell value) tercatat Rp9,3 triliun.
🔗 https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/ritel-teratas-apa-saja-yang-diborong-sepekan
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*2. KrediOne Dorong Literasi Keuangan Lewat “Pindar Mengajar” di UNRI*
KrediOne memperkuat komitmennya dalam mendorong literasi keuangan generasi muda melalui partisipasi dalam program edukasi “Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia di Universitas Riau (UNRI). Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa Universitas Riau ini merupakan kolaborasi antara AFPI, Universitas Riau, serta pelaku industri pindar. Acara ini turut menghadirkan Triyoga Laksito (Kepala OJK Provinsi Riau), Yasmine Meylia (Direktur Eksekutif AFPI), serta Dr. Hj. Alvi Furwanti Alwie, S.E., M.M (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau), Kuseryansyah (Direktur Utama KrediOne), dan Marsha Muspita (Senior Manager FAT KrediOne).
🔗 https://www.emitennews.com/news/kredione-dorong-literasi-keuangan-lewat-pindar-mengajar-di-unri
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*3. Pasar Saham Indonesia Berpacu dengan Waktu Jelang Pengumuman FTSE-MSCI*
Pasar saham Indonesia kini berada dalam fase penentuan. Menjelang pengumuman FTSE dan MSCI pada April-Mei 2026, regulator mempercepat berbagai reformasi pasar untuk menjaga kepercayaan investor global dan mencegah risiko penurunan status Indonesia ke frontier market. “Kita lihat regulator baik dari OJK maupun BEI amat proaktif dalam memfinalkan proposal ke MSCI,” ujar pengamat pasar modal Michael Yeoh, Rabu (1/4/2026).
🔗 https://www.idxchannel.com/market-news/pasar-saham-indonesia-berpacu-dengan-waktu-jelang-pengumuman-ftse-msci
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*4. 7 Saham Banking dengan PBV di Bawah 1 Awal April 2026, Intip Daftar Emitennya*
Simak deretan saham banking dengan PBV di bawah 1. Price to book value atau PBV adalah rasio valuasi yang umum digunakan oleh investor untuk menilai apakah suatu saham mahal atau tidak berdasarkan nilai wajarnya. PBV diperoleh dengan membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku atau nilai wajarnya. Jika rasio PBV menunjukkan 1, berarti harga pasar suatu saham dianggap selaras dengan nilai wajarnya atau sedang diperdagangkan pada nilai wajar.
🔗 https://www.idxchannel.com/market-news/7-saham-banking-dengan-pbv-di-bawah-1-awal-april-2026-intip-daftar-emitennya
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*5. Perang Timur Tengah Bisa Jadi Momentum Pemerintah Perluas Insentif Energi Berbasis Listrik*
Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel dinilai bisa menjadi momentum bagi pemerintah Indonesia untuk mempercepat kebijakan elektrifikasi dan memperluas insentif energi berbasis listrik. Tujuannya agar mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. “Perang di kawasan Teluk berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap pasokan energi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak dan gas,” ujar Ekonom Konstitusi Defiyan Cori dalam pernyataannya, Rabu (1/4/2026).
🔗 https://www.idxchannel.com/economics/perang-timur-tengah-bisa-jadi-momentum-pemerintah-perluas-insentif-energi-berbasis-listrik
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*6. Analis Sebut Penurunan Harga Energi Perburuk Oversupply Nikel*
Penurunan harga energi global berpotensi menekan biaya produksi logam seperti nikel dan tembaga. Namun, kondisi tersebut justru dapat memperpanjang kelebihan pasokan (oversupply), terutama di pasar nikel. Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan energi merupakan komponen krusial dalam industri ekstraktif, khususnya pada proses pemurnian logam. Menurut dia, penurunan biaya ini memiliki efek lanjutan terhadap struktur pasokan global. Smelter yang sebelumnya berada di ambang batas keekonomian dapat tetap beroperasi, sehingga menghambat penyesuaian pasokan saat harga logam melemah.
🔗 https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/analis-sebut-penurunan-harga-energi-perburuk-oversupply-nikel
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*7. Harga Emas Turun Tajam, Pasar Kaji Prospek Gencatan Senjata Ira*
Harga emas dunia turun pada Kamis (26/3/2026), tertekan oleh menguatnya dolar dan naiknya harga minyak yang membuat kekhawatiran inflasi tetap tinggi. Sementara itu, pelaku pasar menimbang ulang peluang gencatan senjata di Timur Tengah. "Emas tertekan oleh kekhawatiran suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi. Jika konflik berlanjut, harga bisa turun di bawah USD4.000, sementara gencatan senjata dan harapan penurunan suku bunga bisa mendorong kembali ke sekitar USD5.000,” kata analis senior di Kitco Metals, Jim Wyckoff, seperti dikutip Reuters. Meskipun emas sering dianggap lindung nilai terhadap ketidakpastian dan inflasi, logam ini cenderung kehilangan daya tarik di lingkungan suku bunga tinggi karena hasil yang naik meningkatkan biaya peluang memegang emas.
🔗 https://www.idxchannel.com/market-news/harga-emas-turun-tajam-pasar-kaji-prospek-gencatan-senjata-iran
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*8. Analis: OPEC+ Hadapi Tekanan Iran, Harga Minyak Masih Terombang-ambing*
OPEC+ menghadapi dilema besar di tengah potensi kembalinya Iran ke pasar minyak global. Di satu sisi, kartel produsen ini ingin menjaga harga tetap stabil. Namun, di sisi lain, mereka juga berisiko kehilangan pangsa pasar jika terlalu agresif memangkas produksi. Situasi ini menjadi semakin kompleks karena tambahan pasokan Iran berpotensi masuk dalam waktu cepat, sementara kebijakan produksi OPEC+ saat ini masih dalam fase penyesuaian. Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono menilai, respons OPEC+ tidak akan langsung agresif, melainkan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan pergerakan harga. Menuturnya, OPEC+ saat ini berada dalam posisi dilematis. Respons mereka kemungkinan akan terbagi dalam dua tahap, yakni tahap akomodasi (wait and see). Selain itu, Arab Saudi dan Rusia kemungkinan tidak akan langsung memangkas produksi. “Mereka akan membiarkan Iran mengisi kuotanya kembali (Iran biasanya dikecualikan dari pemangkasan saat di bawah sanksi) selama harga tetap di atas USD 70,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026. Sementara untuk tahap Intervensi adalah ketika harga Brent merosot ke bawah USD 65 akibat banjir minyak Iran, OPEC+ diprediksi akan melakukan pemangkasan sukarela tambahan (sekitar 500k - 1 juta bpd) untuk menyeimbangkan pasar. “Namun, perselisihan internal mengenai pangsa pasar (market share) bisa memicu volatilitas jika anggota lain enggan mengalah pada Iran,” jelasnya. Sejauh ini, OPEC+ masih aktif mengelola pasokan untuk menjaga keseimbangan pasar. Total pemangkasan produksi kelompok ini mencapai sekitar 5,3 juta barel per hari (bpd) atau setara sekitar 5 persen dari permintaan global, yang terdiri dari pemangkasan kolektif dan pemangkasan sukarela oleh negara inti seperti Arab Saudi dan Rusia. Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya kaku. Reuters melaporkan, sepanjang 2025, OPEC+ sempat mulai mengembalikan produksi sekitar 2,9 juta bpd untuk merebut kembali pangsa pasar, sebelum akhirnya menahan kenaikan produksi pada awal 2026 akibat ketidakpastian permintaan dan geopolitik. Bahkan, pada April 2026, OPEC+ hanya menyepakati kenaikan produksi terbatas sekitar 206 ribu bpd—angka yang dinilai simbolis di tengah ketidakpastian pasar global. Langkah hati-hati ini mencerminkan posisi OPEC+ yang tengah “menjaga keseimbangan tipis” antara mempertahankan harga dan menjaga dominasi pasar. Di sisi lain, dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang menggerakkan harga minyak. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, sempat mengganggu distribusi minyak global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, dikutip dari Reuters. Kondisi ini membuat harga minyak sempat melonjak tajam, meski kenaikan tersebut lebih dipicu oleh risiko geopolitik ketimbang kekuatan fundamental permintaan. Dalam konteks ini, kembalinya Iran justru menjadi variabel yang dapat mengubah arah pasar. Jika pasokan Iran masuk dalam jumlah besar, tekanan terhadap harga minyak berpotensi meningkat, terutama jika permintaan global tidak tumbuh signifikan. Namun, keputusan OPEC+ tidak hanya soal menjaga harga. Persaingan pangsa pasar antar anggota juga menjadi faktor penting. Negara seperti Arab Saudi memiliki fleksibilitas sebagai produsen utama, sementara negara lain menghadapi keterbatasan kapasitas atau tekanan geopolitik. Kondisi ini membuka potensi friksi internal di dalam OPEC+, terutama jika harus menentukan siapa yang harus menanggung pemangkasan produksi tambahan saat Iran kembali ke pasar. Pada akhirnya, arah harga minyak global dalam beberapa bulan ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pasokan Iran, tetapi juga oleh bagaimana OPEC+ menyeimbangkan dua kepentingan besar: mempertahankan harga atau mempertahankan pengaruh di pasar global.
🔗 https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/analis-opec-hadapi-tekanan-iran-harga-minyak-masih-terombang-ambing
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*9. Mentan Sebut Dunia Hadapi Ancaman Krisis Pangan*
Ancaman krisis pangan global kembali menghantui dunia. Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut ke level rekor pada 2026. Jika konflik berkepanjangan dan harga energi dunia tetap tinggi, hampir 45 juta orang tambahan diperkirakan bisa jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut. Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan kini menjadi isu strategis global yang menentukan stabilitas ekonomi dan sosial suatu negara. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan dunia saat ini memang sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius sehingga setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak bergantung pada negara lain. “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujar Mentan Amran, Minggu (22/03/2026). Ia menjelaskan kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global seperti yang pernah terjadi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022. Dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global. Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi paling rentan menghadapi lonjakan harga dan kelangkaan pasokan.
🔗 https://www.idxchannel.com/economics/mentan-sebut-dunia-hadapi-ancaman-krisis-pangan
#ANALYSIS @PrimbonSaham

*10. WFP: 45 Juta Orang Terancam Kelaparan, Indonesia Perkuat Swasembada Pangan*
Ancaman krisis pangan global kembali menjadi perhatian dunia. Laporan terbaru World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan jumlah penduduk yang mengalami kelaparan akut pada 2026. Jika konflik berkepanjangan dan harga energi tetap tinggi, hampir 45 juta orang tambahan diperkirakan dapat jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan kini menjadi isu strategis global yang berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi dan sosial suatu negara. Amankan Harga Sembako Selama Lebaran, Satgas Pangan Siap Sanksi Produsen Nakal Menanggapi situasi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa setiap negara perlu memperkuat ketahanan pangannya dan tidak bergantung pada impor dari negara lain. “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujar Amran, Minggu (22/3/2026). Mentan Sebut Dunia Hadapi Ancaman Krisis Pangan Menurutnya, kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global, seperti yang terjadi saat konflik Rusia–Ukraina pada 2022. Dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi juga merambat melalui rantai pasok global. “Kalau terjadi krisis global, terlebih jika ada permasalahan geopolitik seperti Iran versus Amerika dan Israel, negara yang paling aman adalah yang mampu memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” katanya. Prabowo: Industrialisasi Berbasis Hilirisasi Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas Di tengah ancaman tersebut, Amran menilai Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Pemerintah saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang kuat, modern, dan berkelanjutan dengan target swasembada pangan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. “Kita harus optimistis. Indonesia memiliki lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia yang besar. Jika dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi, bahkan menjadi lumbung pangan dunia bukan hal yang mustahil,” ujarnya.
🔗 https://www.idxchannel.com/news/wfp-45-juta-orang-terancam-kelaparan-indonesia-perkuat-swasembada-pangan
#ANALYSIS @PrimbonSaham